Rasanya baru kemarin kita mulai nyaman dengan kemudahan drag-and-drop dalam pengembangan aplikasi, tiba-tiba dunia teknologi sudah diguncang lagi oleh ledakan Generative AI (GenAI). Jujur saja, perkembangan perangkat lunak yang bergerak dengan kecepatan cahaya ini memang sering membuat kita geleng-geleng kepala, bukan?
Sekarang, muncul pertanyaan besar yang mungkin juga sedang menghantui benak Anda, para CIO dan pemimpin IT: Di tengah kemampuan AI yang bisa menulis kode dalam hitungan detik, apakah Low-Code Platform masih punya tempat? Atau jangan-jangan, teknologi ini sedang menghitung hari menuju kepunahannya di tahun 2026?
Agar lebih mudah dipahami, mari kita gunakan sebuah analogi sederhana:
Bayangkan Low-Code itu seperti satu set balok LEGO berkualitas tinggi yang siap disusun, sedangkan GenAI adalah instruktur cerdas yang membisikkan ide desain terbaik di telinga Anda.
Apakah kehadiran instruktur yang cerdas membuat balok LEGO-nya jadi tidak berguna? Tentu tidak. Justru, ketika keduanya digabungkan, Anda bisa membangun sesuatu yang megah jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Melalui artikel ini, kita tidak hanya akan mengupas kulit luarnya saja. Saya mengajak Anda untuk menyelami dinamika antara kedua teknologi ini, melihat data industri terkini, dan membedah mengapa narasi “AI akan membunuh Low-Code” mungkin adalah kesalahpahaman terbesar dalam dekade ini. Mari kita diskusikan!
Mengapa Citizen Developer Adalah Masa Depan?
Sebelum membahas cara mengelolanya, kita perlu memahami mengapa tren ini tidak terbendung. Menurut riset dari Gartner, diperkirakan pada tahun 2025, 70% aplikasi baru yang dikembangkan oleh perusahaan akan menggunakan teknologi low-code atau no-code, meningkat tajam dari kurang dari 25% pada tahun 2020.
Pergeseran ini terjadi karena demokratisasi teknologi. Platform low-code memungkinkan staf dari departemen HR, Keuangan, hingga Pemasaran untuk memvisualisasikan ide mereka menjadi aplikasi fungsional dengan antarmuka drag-and-drop, tanpa perlu menulis ribuan baris kode yang rumit.
Manfaat Nyata bagi Bisnis:
- Kecepatan ke Pasar (Time-to-Market): Aplikasi yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan untuk dibangun oleh tim IT, kini bisa selesai dalam hitungan minggu atau bahkan hari.
- Efisiensi Biaya: Mengurangi beban kerja developer profesional yang mahal, sehingga mereka bisa fokus pada proyek-proyek inti yang lebih kompleks.
- Solusi Tepat Sasaran: Karena dibuat langsung oleh pengguna bisnis yang memahami masalah di lapangan, aplikasi yang dihasilkan sering kali lebih relevan dengan kebutuhan operasional.
Bahaya Mengintai: Apa Itu Shadow IT?
Bayangkan skenario ini: Manajer Pemasaran Anda frustrasi menunggu antrean di departemen IT untuk pembuatan aplikasi survei pelanggan. Akhirnya, ia memutuskan untuk berlangganan layanan pihak ketiga atau membangun aplikasi sendiri menggunakan alat gratisan tanpa berkonsultasi dengan CIO atau manajer keamanan IT. Inilah yang disebut Shadow IT.
Tanpa tata kelola yang ketat, memberikan akses pengembangan aplikasi kepada staf non-teknis ibarat memberikan kunci mobil balap kepada seorang remaja yang baru belajar mengemudi; potensinya besar, namun risiko kecelakaannya pun tak kalah mengerikan.
Risiko Utama Shadow IT:
- Kebocoran Data: Aplikasi yang dibuat tanpa standar keamanan enkripsi bisa menjadi pintu masuk bagi peretas.
- Silo Data: Data tersimpan di aplikasi yang tidak terintegrasi dengan sistem inti perusahaan (ERP/CRM), membuat analisis data tingkat eksekutif menjadi tidak akurat.
- Masalah Kepatuhan (Compliance): Pelanggaran terhadap regulasi data seperti GDPR atau UU PDP karena aplikasi tidak memiliki fitur audit yang memadai.
Membangun Kerangka Tata Kelola (Governance Framework)
Kunci sukses dalam mengadopsi low-code bukanlah dengan melarang inisiatif karyawan, melainkan dengan memfasilitasinya melalui jalur yang aman.
Inilah yang disebut sebagai Managed Citizen Development. Berikut adalah langkah strategis untuk membangun tata kelolanya:
1. Tetapkan Zona Aman (Guardrails)
Departemen IT tidak lagi berperan sebagai “pembuat” tunggal, melainkan sebagai “penjaga gerbang”. IT harus menetapkan batasan teknis di dalam platform low-code yang digunakan.
- Kontrol Akses: Tentukan siapa yang boleh membuat aplikasi, siapa yang hanya boleh mengedit, dan siapa yang hanya bisa melihat.
- Integrasi Terpusat: Pastikan semua Citizen Developer hanya menggunakan konektor data (API) yang sudah disetujui dan diamankan oleh tim IT untuk mengakses database perusahaan.
2. Bentuk Center of Excellence (CoE)
Untuk skala perusahaan besar (Enterprise), memiliki Low-Code Center of Excellence adalah sebuah kewajiban. CoE adalah tim multidisiplin yang terdiri dari ahli IT, pemimpin bisnis, dan power users. Tugas utama CoE meliputi:
- Menetapkan standar desain dan best practice.
- Melakukan tinjauan (review) terhadap aplikasi sebelum diluncurkan ke lingkungan produksi (live).
- Memberikan pelatihan dan sertifikasi internal bagi calon Citizen Developer.
3. Klasifikasi Tingkat Risiko Aplikasi
Tidak semua aplikasi memerlukan pengawasan yang sama ketatnya. Anda bisa membuat matriks risiko sederhana:
- Aplikasi Produktivitas Tim (Risiko Rendah): Aplikasi untuk pencatatan cuti tim atau penjadwalan rapat. Approval bisa dilakukan secara otomatis atau minimal.
- Aplikasi Operasional Penting (Risiko Menengah): Aplikasi yang menangani data inventaris atau proses bisnis lintas departemen. Memerlukan code review ringan dari IT.
- Aplikasi Kritikal (Risiko Tinggi): Aplikasi yang memproses data keuangan atau data sensitif pelanggan. Wajib melalui pengujian keamanan penetrasi (pentest) dan dikelola sepenuhnya oleh IT profesional, meskipun prototipenya dibuat oleh bisnis.
Strategi “Fusion Teams”: Kolaborasi IT dan Bisnis
Konsep Fusion Teams adalah evolusi dari kerja sama tim tradisional. Di sini, staf bisnis dan staf IT bekerja dalam satu tim produk yang sama. Citizen Developer fokus pada logika bisnis dan antarmuka pengguna (UI), sementara Pro-Code Developer (Programmer IT) fokus pada arsitektur, keamanan, dan integrasi sistem yang rumit.
Strategi ini menghilangkan mentalitas “kami vs mereka” yang sering terjadi antara departemen IT dan unit bisnis. Dengan low-code platform sebagai bahasa umum (common language), kedua belah pihak bisa melihat visualisasi yang sama, sehingga miskomunikasi dapat diminimalisir secara drastis.
Tahapan Implementasi Fusion Teams:
- Identifikasi Bakat: Cari karyawan di departemen bisnis yang memiliki ketertarikan pada teknologi dan logika yang kuat. Mereka adalah kandidat Citizen Developer terbaik.
- Mentoring: Pasangkan mereka dengan developer senior dari IT sebagai mentor.
- Budaya Eksperimen: Izinkan kegagalan dalam skala kecil di lingkungan pengembangan (sandbox environment), namun pastikan disiplin ketat saat masuk ke lingkungan produksi.
Memilih Platform yang Mendukung Tata Kelola
Tidak semua low-code platform diciptakan setara. Untuk kebutuhan B2B dan enterprise, Anda harus memilih platform yang memiliki fitur tata kelola bawaan (built-in governance). Fitur yang wajib ada meliputi:
- Dasbor Admin Terpusat: IT bisa melihat semua aplikasi yang sedang dibangun, siapa pembuatnya, dan komponen apa yang digunakan.
- Manajemen Siklus Hidup Aplikasi (ALM): Kemampuan untuk mengelola versi aplikasi (versioning), staging, hingga deployment secara otomatis.
- Keamanan Level Enterprise: Dukungan untuk SSO (Single Sign-On), enkripsi data, dan kepatuhan terhadap standar keamanan internasional (ISO 27001, SOC 2).
Kesimpulan: Transformasi Digital yang Terkendali
Membangun tim Citizen Developer bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis agar bisnis tetap relevan dan gesit. Ketakutan akan Shadow IT tidak boleh menjadi penghalang inovasi. Sebaliknya, risiko tersebut harus dimitigasi melalui strategi tata kelola yang kuat, transparan, dan kolaboratif.
Ketika Anda berhasil memberdayakan karyawan non-IT dengan alat yang tepat dan aturan main yang jelas, Anda tidak hanya mendapatkan aplikasi bisnis yang lebih cepat, tetapi juga menciptakan budaya inovasi yang mengakar di setiap lini perusahaan. Departemen IT Anda akan bertransformasi dari sekadar “tukang servis” menjadi mitra strategis yang memfasilitasi pertumbuhan bisnis.
Apakah perusahaan Anda siap untuk mengakselerasi transformasi digital dengan memberdayakan potensi karyawan Anda secara aman? Jangan biarkan keraguan teknis menghambat pertumbuhan bisnis Anda. Untuk konsultasi mendalam mengenai implementasi platform teknologi yang tepat dan strategi tata kelola IT yang handal, segera hubungi tim ahli dari SOLTIUS.






